The Empty Earth

apa yang terjadi pada makna hidup jika semua manusia tiba-tiba menghilang

The Empty Earth
I

Bayangkan suatu Selasa pagi yang biasa saja. Tiba-tiba, dalam sekejap mata, kita semua menghilang. Tidak ada ledakan dahsyat. Tidak ada invasi alien pembawa laser. Seketika, 8 miliar manusia lenyap tak berbekas. Cangkir kopi masih hangat di atas meja. Mesin mobil masih menyala dan merayap tanpa pengemudi di tengah kemacetan ibu kota. Pesawat terbang kehilangan pilotnya dan mulai meluncur jatuh satu per satu. Pernahkah kita memikirkan skenario liar semacam ini? Ini bukan sekadar fiksi ilmiah untuk menakut-nakuti. Mari kita menepi sebentar dari rutinitas yang melelahkan. Jika kita semua mendadak menguap dari realitas, apa yang sebenarnya terjadi pada planet ini? Dan yang jauh lebih mengusik pikiran: apa yang terjadi pada semua hal yang selama ini kita anggap memiliki "makna"?

II

Begitu kita lenyap, alam langsung mengambil alih kemudi dengan kejam sekaligus indah. Secara sains, proses ini sangat bisa diprediksi. Dalam hitungan jam, sebagian besar pembangkit listrik di seluruh dunia akan mati karena kehabisan bahan bakar atau malfungsi sistem otomatis. Tanpa listrik, pompa yang menjaga terowongan kereta bawah tanah agar tidak banjir akan berhenti bekerja. Dalam hitungan hari, kota-kota besar akan terendam air. Berdasarkan penelitian dalam bidang biologi konservasi, kita tahu alam bekerja dengan sangat efisien. Akar pohon perlahan akan membelah aspal dan beton bangunan tinggi. Hewan-hewan liar akan turun gunung dan menjadikan bekas jalan tol sebagai padang rumput baru. Namun, ada satu ancaman fisik yang mengerikan. Ratusan reaktor nuklir di seluruh dunia akan mengalami meltdown atau pelelehan inti karena sistem pendinginnya mati total. Bumi akan dipenuhi radiasi tingkat tinggi selama beberapa abad. Sejarah sudah membuktikannya lewat tragedi Chernobyl. Tapi lucunya, sains mencatat bahwa di tengah paparan radiasi pekat itu, flora dan fauna justru berkembang biak pesat. Kenapa? Karena absennya satu predator paling merusak bernama manusia. Secara fisik, Bumi akan baik-baik saja. Ia akan menyembuhkan dirinya sendiri.

III

Oke, secara fisik planet ini akan survive dan terus berputar mengelilingi matahari. Tapi mari kita ajak pikiran kita menggali lebih dalam. Bagaimana dengan hal-hal yang tidak bisa disentuh oleh tangan? Jika tidak ada lagi mata manusia yang tersisa untuk menatap lukisan Monalisa di museum Louvre, apakah lukisan itu masih bernilai seni tinggi? Atau ia hanya sekadar kanvas tua yang perlahan lapuk dimakan kelembapan udara? Bayangkan tumpukan emas batangan di brankas bank sentral di seluruh dunia. Tanpa sistem ekonomi dan otak manusia yang menyepakati bahwa emas itu berharga, emas hanyalah logam biasa yang kebetulan berwarna kuning dan tidak mudah bereaksi dengan oksigen. Di sinilah psikologi evolusioner masuk dan membalikkan cara pandang kita. Kita manusia memiliki kemampuan kognitif unik untuk menciptakan imagined realities atau realitas imajiner. Konsep negara, uang, hukum, nilai moral, hingga status sosial, semuanya hanya eksis karena kita secara kolektif sepakat untuk mempercayainya. Lalu, muncul sebuah pertanyaan filosofis yang mungkin membuat kita sedikit merinding. Jika sang pembuat makna (yaitu kita) menghilang dari muka bumi, apakah makna itu sendiri ikut mati secara absolut?

IV

Inilah realitas ilmiah yang paling keras, namun paradoksnya, justru paling membebaskan. Alam semesta pada dasarnya dingin, kosong, dan sangat tidak peduli. Ia tidak berutang makna apa pun kepada kita. Jadi, saat bumi kosong dari manusia, semua makna kehidupan yang kita bangun susah payah akan menguap seketika. Tidak ada lagi yang baik, tidak ada yang buruk. Tidak ada yang mahal, tidak ada yang murah. Hanya ada hukum fisika, kimia, dan biologi yang berjalan buta. Namun, mari kita renungkan fakta ini baik-baik, teman-teman. Fakta bahwa "makna" akan lenyap bersama hilangnya kita, justru mengungkap rahasia terbesar tentang siapa kita sebenarnya. Kita bukanlah penumpang pasif di alam semesta ini. Secara literal, kita adalah cara bagi alam semesta untuk memahami dirinya sendiri. Lewat mata kitalah, tumpukan debu kosmik bisa melihat keindahan senja. Lewat jaringan saraf di otak kitalah, materi atomik yang tadinya mati bisa merasakan cinta, keadilan, rindu, dan harapan. Makna hidup bukanlah sebuah objek yang tergeletak di tanah menunggu untuk ditemukan oleh manusia. Makna hidup adalah sesuatu yang kita ciptakan. Kitalah sang mesin pembuat makna itu.

V

Hari ini, Bumi belum kosong. Kita masih ada di sini, membaca tulisan ini, menghabiskan kopi, dan mungkin sedang pusing memikirkan tumpukan tagihan atau ekspektasi orang tua. Menyadari bahwa semua makna di dunia ini sepenuhnya bergantung pada kita mungkin awalnya terasa sangat membebani. Tapi coba pikirkan lagi, bukankah itu juga sebuah kebebasan yang luar biasa utuh? Karena makna tidak diukir di atas batu oleh alam semesta, kita punya kekuatan absolut untuk mendefinisikan ulang apa yang sebenarnya penting dalam hidup kita masing-masing. Jika uang, status sosial, atau validasi orang lain hanya eksis karena kita sepakat mempercayainya, kita selalu punya hak veto untuk berhenti mempercayainya. Terutama jika hal-hal itu hanya membuat kita menderita. Mari kita gunakan sisa waktu kita di sini untuk menciptakan makna yang lebih baik. Makna yang lebih welas asih untuk diri sendiri, dan lebih empatik untuk sesama. Karena pada akhirnya, selama kita masih bernapas di atas planet biru yang rapuh ini, kitalah satu-satunya penjaga nyala api kehidupan beserta seluruh maknanya.